Sunday, August 20, 2006

Segala Puji Bagi Allah anak ketiga kami telah lahir

Rabu(9/8/2006) tepat pukul 10.05 pagi putri ketiga kami telah lahir di Rumah Sakit Haji Jakarta. Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) atas kelancaran proses kelahiran putri kami. Untuk putri kami yang ketiga ini kami beri nama HANNA AISHA ADIBAH, nama ini mengandung do'a agar putri kami kelak menjadi "bunga elok kehidupan yang berpengetahuan/berilmu". Amin. Kelahiran Aisha ini membuat saya (Ayahnya) kangen bangett pengen menyentuhnya, sebab kelahiran Aisha ini saat saya sudah kembali ke Jepang. Duuh...rindu ku menyentuh buah hati kami. "Makasih istriku sayang...dan maafkan A'a' tidak bisa menemani jihadmu saat melahirkan, semoga pahala dan kasih sayang Allah selalu tercurah untukmu".
"Oh ya, Shabira sekarang sudah menjadi kakak, kata Umi kakak Bhira hebat sebab kakak Bhira ikut sibuk menyiapkan banyak hal saat menjelang kelahiran Aisha, dan kata umi juga kakak bhira sayang bangett sama Aisha".

Menjelang Kelahiran Aisha

Dua minggu menjelang kelahiran putri ketiga kami (Aisha), Shabira dan uminya pengen berenang bangett, walhasil aspirasi dua srikandi ini menjadi kenyataan yang menyenangkan. Meskipun kami sempat deg degan ketika melihat Umi berenang begitu lincah, seperti tidak sedang hamil tua saja. "Umi hebatt !!" begitu kata Shabira. Kebersamaan sungguh begitu indah, dan kami nikmati keindahan itu di Ancol. "ya Allah betapa indah karuniamu menyatukan kami, segala puji bagi-Mu ya Allah".

Berkunjung ke The University of Tokyo



"Ayah , Shabira pengen sekolah di Tokyo" , tiba-tiba suara itu terucap dari bibir mungil Shabira. Lalu kami hanya menjawab "Amin" dengan do'a semoga suatu saat nanti Shabira bisa kuliah di Universitas terkemuka di Jepang. Hari itu kami (Ayah dan Uminya) mengajak Shabira uintuk mengelilingi The University of Tokyo, dari Departement of education, Institute of Social Science, dan departement lainya termasuk ke sejumlah gedung laboratorium, sempat makan obento di tepi danau, berfoto ria di depan kampus usai maghrib tiba.


Monday, December 05, 2005

Musim Gugur Di Negeri Sakura





Sunday, November 20, 2005

Shabira dalam berbagai gaya di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 (Jepang)









Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 (Gn Fuji & Danau Kawaguchi)






Indahnya kebersamaan di musim gugur 2-25 Nov 2005 (Tokyo Disneyland)




Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 ( Tokyo Tower)




Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005(Istana Kaisar Tokyo )











Monday, October 17, 2005

Shabira Begaya di kampung dan di kampus
















Shabira kemaren ke kampung Ayahnya di Indramayu. " Enggak bisa diem dan banyak gaya, terus sok ngatur temen-temen seusianya di kampung, bawa rombongan anak-anak ke rumah Ma' De' atau neneknya teruss disuruhnya cium tangan neneknya semua...hehehe". Dua foto yang berbaju pink adalah gaya Shabira di Kampung dan ekpresinya saat ngambil mangga, sementara dua foto yang lagi duduk adalah gayanya sewaktu di kampus. Empat foto ini menurut Ayahnya punya rating eksprersi yang sama-sama bikin gemess...hehehe. "Selamat berekspresi ya sayang yaaa anak solehah yang lucu...."

Thursday, September 22, 2005

Dibalik Kemenangan Koizumi

Dibalik Kemenangan Koizumi
Oleh : Ubedilah Badrun
Tulisan ini dimuat di www.hminews.com pada rubrik Opini

Pemilu Parlemen Jepang usai dilaksanakan pada 11 September 2005 lalu dengan kemenangan LDP(Liberal Democratic Party) atau Jiyuminshuto dengan memperoleh 296 kursi di parlemen. Dengan kemenangan itu dan didukung 44 kursi dari partai koalisi di parlemen Junichiro Koizumi dengan mudah terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Jepang setelah 340 dari 480 suara anggota Majelis Rendah Parlemen memilihnya pada sidang parlemen, Rabu (21/9). Seperti diketahui bahwa dua per tiga kursi Majelis Rendah ditempati oleh koalisi yang berkuasa pendukung Koizumi. Keputusan majelis rendah tersebut disusul keputusan senada dari Majelis Tinggi Parlemen. Sidang pemilihan Perdana Menteri itu dilaksanakan selang beberapa jam setelah kabinet secara massal mengundurkan diri. Pengunduran diri ini merupakan formalitas untuk memuluskan sidang parlemen serta penunjukan perdana menteri. Hal ini dilakukan mengingat koalisi sudah menguasai Majelis Rendah dan Tinggi. Sejumlah pengamat menduga, setelah terpilih kembali, Koizumi akan melantik kembali kabinet yang membubarkan diri paling lambat Rabu malam 21 September ini.
Apa yang dilakukan Koizumi setelah itu? Jawabanya sudah pasti bahwa Koizumi akan memusatkan perhatian untuk melakukan swastanisasi Kantor Pos, sesuai program saat kampanye Pemilu. Kantor Pos Jepang adalah lembaga keuangan raksasa dengan simpanan hingga tiga triliun dollar AS, belum termasuk aset asuransi jiwa yang dikelolanya. Ada apa dibalik program swastanisasi Kantor Pos Jepang ? Argumentasi sederhana yang ditangkap penulis melalui sejumlah media Jepang dan diskusi dengan komunitas Jepang di Tokyo ditemukan bahwa Kantor Pos Jepang beroperasi dengan biaya negara dan dikelola oleh pegawai yang berstatus pegawai negeri. Karena merupakan perusahaan negara maka biaya pengelolaan Kantor Pos yang menyebar di seluruh wilayah Jepang ini diperoleh dari pajak rakyat dengan jumlah yang amat besar. Sementara perolehan keuntungan dari Kantor Pos Jepang tidak seimbang dalam kaca mata bisnis dengan pengeluaran yang ditanggung pemerintah. Sementara sumber perolehan dari pajak rakyat diprediksikan dalam beberapa tahun kedepan mengalami penurunan yang amat drastis. Sebab jumlah pembayar pajak mengalami penurunan yang tajam.
Tahun 2005 ini jumlah pembayar pajak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena para wajib pajak tidak mampu membayar pajak dan tidak terkena wajib pajak karena usianya yang tidak produktif lagi. Jumlah penduduk yang tidak produktif di Jepang yang berusia di atas 65 tahun mencapai 20% dari seluruh jumlah penduduk Jepang. Ini artinya sumber pajak Jepang mengalami penurunan mencapai 20 %. Disaat yang sama mereka juga berhak memperoleh uang pensiun yang telah mereka bayar sejak usia 20 tahun. Di Jepang setiap warga negara yang sudah berusia 20 tahun setiap bulannya wajib membayar uang pensiun sebesar lebih dari ¥ 13.000 atau sekitar lebih dari satu juta rupiah. Bisa dibayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah Jepang untuk para pensiunan, yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal produktif lainya.
Sementara dikalangan muda Jepang kini menghadapi permasalahan yang cukup serius sebab tidak sedikit anak muda Jepang yang berusia produktif tidak mau bekerja dan tidak mau sekolah. Kelompok anak muda ini menyebut dirinya NETO, suatu komunitas muda Jepang yang tidak mau bekerja dan tidak mau melanjutkan pendidikan. Dalam perspektif filsafat bisa jadi mereka masuk kategori kelompok hedonisme. Realitas anak muda usia produktif ini seharusnya bisa menjadi wajib pajak dan bisa menambah devisa negara dari pajak mereka. Ini artinya sumber penghasilan negara dari pajak juga mengalami penurunan.
Para perempuan Jepang yang bekerja, sangat takut mempunyai anak sebab jika melahirkan itu artinya harus siap kehilangan pekerjaan. Sebab sulit bagi perusahaan Jepang untuk menerima kembali perempuan Jepang menduduki posisi semula dari pekerjaanya seperti sebelum melahirkan. Banyak kasus pekerja perempuan setelah cuti hamil kemudian ingin kembali bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan. Selain itu ketakutan punya anak juga disebabkan karena living Cost Jepang yang amat mahal. Mereka ketakutan dengan biaya hidup dan masa depan anaknya yang memerlukan biaya yang mahal, dari biaya hidup sampai biaya sekolah. Perihal ketakutan punya anak inilah yang menyebabkan angka kelahiran di Jepang merupakan terendah di dunia. Realitas inilah yang kemudian para ahli demografi di Jepang memperkirakan bahwa menjelang tahun 2007, penduduk Jepang diperkirakan mencapai 127 juta jiwa, dan kemudian menyusut menjadi 100 juta menjelang pertengahan abad. Ini berarti jumlah pekerja berkurang 30 juta orang, sedangkan jumlah orang lanjut usia hampir berlipat dua. Dengan demikian sumber pajak dari rakyatpun berkurang secara drastis.
Realitas yang mengkhawatirkan berkurangnya devisa negara dari pajak rakyat inilah yang merupakan salah satu pendorong Koizumi untuk melakukan swastanisasi Kantor Pos. Sebab biaya pengelolaan kantor Pos yang begitu besar itu bersumber dari pajak rakyat yang kini diprediksi akan mengalami penuruan secara drastis. Dengan demikian jika Kantor Pos masih dikelola negara dengan biaya yang besar itu maka tidak mustahil akan mengalami kebangkrutan total. Alasan ini diterima public Jepang secara antusias. Ini analisis yang coba dilihat secara sederhana dari logika perpajakan dan pensiunan Jepang. Tetapi jika dilihat dari latar idiologi Koizumi dan partainya (LDP) yang penganut Liberalisme dan Koizumi termasuk pemimpin Asia yang paling dekat dengan G.W.Bush, maka logika perpajakan itu tidak berlaku. Koizumi dengan idiologi liberalismenya ingin membebaskan swasta berinvestasi di Perusahaan Pos itu dan diketahui secara umum bahwa banyak perusahaan swasta atau investor Jepang yang memiliki jaringan bisnis dengan Amerika. Ini semacam konvensasi pembuktian idiologi liberal Koizumi untuk kesetiaannya pada Amerika. Sebab Jepang di bawah Koizumi sungguh-sungguh membutuhkan Amerika dalam menghadapi hubungan politiknya yang tegang dengan China dan Korea Utara saat ini.
Hal diatas sekedar analisis sederhana. Jika nalisis ini keliru , maka realitas kemenangan Koizumi adalah sekedar bukti dari kehausan masyarakat Jepang yang ingin perubahan, meski perubahah itu sangat artifisial. Jika benar, itulah rahasia dibalik kemenangan Koizumi. Atau anggap saja sekedar oleh-oleh dari Negeri Sakura.
Ubedilah Badrun, Alumni HMI MPO dan kini tinggal di Tokyo-Jepang.

Thursday, September 15, 2005

Wisuda S2 Psikologi UI







Ini saat wisuda S2 Psikologi UI my honey-my wife 30 Agustus 2005, dari pake jaket mahasiswa UI, foto usai wisuda di dekat danau UI, bersama Umi & Mayah yang kami cintai, bersama keluarga di depan Rektorat UI, bersama teman-teman wisuda dan sang buah hati kami Shabira yang pose di pinggir Danau UI, meski A'a' tidak bisa hadir karena tugas di Tokyo hati A'a' hadir dalam syukur yang dalam kepada Allah. Makasih yang, fotonya bikin A'a' seneng bangettt.
Akhirnya satu tahapan perjuangan telah yayang lalui dan tahapan perjuangan baru ada dihadapan mata tuk mengabdi tebarkan ilmu dan hikmah di Universitas. Tradisi intelektual dan riset akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup yayang. Gambaremasu !!..

Wednesday, September 14, 2005

Shabira dari yang lucu sampe yang juara !




Alhamdulillah Ya Allah ucapan syukur ini tak kan pernah berhenti, sebab karunia-Mu yang amat berharga ini membuat kami selalu bahagia. Dari gayanya saat di TMII yang lucu, pake baju seragam Global Kids Play Group kaya anak sekolah SD, Duduknya yang santai kaya mahasiswa, dan saat menjadi Sang juara pada lomba 17-an di Global Kids.

"Dede Bira...Ayah sama Umi sayang bangett sama dede Bira..." " Dede hebat, jadi anak lucuu, suka becanda, bermain, dan jadi juara!"hehehe..." Selamat sayang yahh..." Dede hebat !".

Shabira...Ayah sama Umi Sayang Shabira...

Shabira...aduhh gayamu nak...membuat Ayah sama Umi gemes bangett...itu duduknya gaya bangett nak...hehehe...sehabis kuliah duduk di depan kampus yahh? Ade Bira lagi di kampus Umi yahh? hehehe...gaya kaya anak kuliahan aja...hehehe...

Segala puji bagi Allah dan Maha suci Allah, terima kasih ya Allah Engkau anugerahi kami buah hati yang manis, lucu, cerdas... dan solehah...
"Dalam munajat kami kumohon kepada-Mu ya Allah semoga limpahan kasih sayang-Mu dan curahan rahmat-Mu tercurah untuk kami hingga kami mampu membentuk keluarga kami menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah dan dikaruniai anak-anak yang soleh dan solehah dan mampu menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa " Amin.

"Dede ..Ayah sama Umi sayang bangett sama Dede...."

Nyebur Bersama Shabira

Kebersamaan adalah keindahan. Sebab ia muncul dari kedekatan hati dan damainya jiwa. Segala puji bagi Allah atas karunia ini..
Ini saat nyebur bareng bersama shabira yang lagi asyik menggerakgerakan kakinya.. konsentrasi penuh...hehehe...shaira..shabira. Makasih sayanng...

Sunday, September 11, 2005

Omatsuri 2005

Bangsa Jepang adalah bangsa yang memegang teguh adat dan sisa-sisa peninggalan masa lalunya. Meskipun modernisasi telah dilakukannya sejak Restorasi Meiji 1867. Tidak heran jika semodern kini Jepang masih memegang teguh etika ketimuranya, seperti sopan santun, solidaritas, dan saling menghargai sesama. Omatsuri adalah bentuk budaya bangsa Jepang yang telah ada berabad-abad di negeri matahari terbit ini. Sebuah budaya yang dilakukan pada saat menjelang akhir musim panas dan menyambut kedatangan musim gugur. Setiap komunitas bangsa Jepang melakukan budaya Omatsuri ini, tak terkecuali lokasi yang berdekatan dengan Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), 4-6-6 Meguro Meguroku Tokyo.Minggu, 11 September 2005 siswa-siswi SRIT ikut serta dalam kegiatan Omatsuri Otorijinja Meguro Tokyo. Omatsuri 2005 ini diikuti oleh siswa-siswi SRIT beserta guru-guru dan orang tua siswa. Jumlah rombongan dari SRIT ini mencapai 49 orang.
Di foto ini adalah saat saya usai memakai Yukata dalam persiapan mengikuti Omatsuri 2005. Dengan memakai baju Yukata dengan corak Jepang yang amat kental akan nampak solidaritas dan kemudian membaur dengan komunitas Jepang. Acaranya memang membaur menyatu melakukan arak-arakan mengelilingi wilayah sekitar yang dimulai tepat jam satu siang. Dari Ketua RT, orang tua, anak-anak, sampai rombongan SRIT semuanya turut meramaiakan Omatsuri. Kebersamaan nampak terlihat.Sebuah kebersamaan melindungi wilayahnya dan simbol seorang pemimpin harus bersama rakyat dan melindungi rakyatnya. Kegembiraan dan teriakan “wasoi” sambil mengangkat pernik-pernik budaya dan membunyikan bedug yang ditarik dan diarak dengan tali yang panjangnya mencapai 25 meter itu, siswa SRIT tak segan-segan terlibat bahkan menjadi motor utama jalanya Omatruti.

Saturday, September 03, 2005

Di Aichi Expo

AICHI EXPO 2005
Ini foto saat ke Aichi Expo 2005 - Nagoya - Jepang. Saat berada diantara dua paviliun ( Indonesia dan Thailand), dua paviliun yang menampilkan unsur lingkungan dan etnis yang menarik dan selalu dipadati pengunjung dari berbagai negara, khususnya masyarakat Jepang. Nagoya, lokasi dimana Expo dilangsungkan tempatnya jauh dari Tokyo, kurang lebih 5 jam perjalanan jika kita menggunakan kendaraan darat (mobil) dari Tokyo atau cukup 1 jam setengah kalau menggunakan kereta cepat Shinkansen. Lalu apa sih Aichi Expo 2005?
Aichi Expo 2005 bertujuan untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi umat manusia mengenai lingkungan hidup, sumber daya alam dan energi. Forum Expo ini memberikan kesempatan pula kepada segenap warga dunia untuk berinteraksi dan saling belajar mengenai mekanisme alam serta daya kehidupan agar dapat memahami budaya serta peradaban yang harus dikembangkan bagi masyarakat dunia di abad 21.
Dengan tema nature's wisdom, Expo 2005 akan mencoba mewujudkan suatu bentuk ideal untuk kebudayaan dan peradaban mengikuti kearifan alam (nature's wisdom), sebagai model bagi kehidupan masyarakat di abad 21 dengan belajar dari semua pengalaman dan pengetahuan serta kearifan manusia dalam berinteraksi dengan alam. Hal semacam ini dapat menjadi arah menuju terciptanya solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia di abad 21.
Sub-tema nature's matrix akan menggali dan mengembangkan model peradaban di abad 21, mengatasi permasalahan kependudukan dan lingkungan hidup dengan berbagai percobaan dan kemajuan telah diraih di bidang bio-teknologi dan IT. Aichi Expo 2005 memiliki dua sub tema.
Sub-tema art of life memperlihatkan bagaimana seni rupa, seni pertunjukan, adat dan tradisi yang beragam dari berbagai penjuru dunia dapat menciptakan berbagai interaksi antara manusia dengan alam yang membuka kemungkinan arah baru dari tata kehidupan umat manusia di abad 21.
Sub-tema development of eco-communities akan menunjukkan suatu model gaya hidup ideal dengan infrastruktur yang menggunakan sumber daya secara efisien. Keseimbangan antara pembangunan sosial dan pengelolaan lingkungan menjadi model ideal bagi kehidupan masyarakat abad 21.
Bertemunya berbagai perbedaan di bidang keilmuan dan budaya dari seluruh penjuru dunia pada Expo 2005 Aichi akan menciptakan Grand Intercultural Symphony yang mempertautkan interaksi dari berbagai perbedaan baik manusia maupun budayanya. Expo 2005 menjadi tempat dimana peserta dan pengunjung dapat merasakan nilai dari perbedaan. Expo 2005 diharapkan akan melahirkan suatu gerakan pemikiran baru yang dapat menjadi solusi bagi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia mengenai lingkungan hidup di abad 21.

Sunday, August 21, 2005

Juara I euih..di 17-an KBRI Tokyo

Smash !!!" ternyata sisa-sisa masa lalu sewaktu SMA menjadi team volley sekolah bertanding di Kabupaten masih ada. Hehehe...Foto disebelah ini adalah saat menjadi smasher pada kompetisi volley ball dalam rangka HUT RI ke 60 KBRI Tokyo 2005. Dan Alhamdulillah enggak tanggung-tanggung menjadi juara I (satu!!). Hebat euih...lumayan seru juga sih finalnya. Saya membayangkan andai anaku Shabira dan istriku sayang ngeliat langsung pasti aneh and ketawa..kok masih bisa nyemash yah? hahaha...padahal tuh body beratnya terus bertambah..haha. Yups.Nah..tiga teman yang sedang konsentrasi menatap kecepatan bola adalah Indra, Erick dan Yopi. Thanks friends..nice games and you are good teamwork.Nahh yang lebih bermakna lagi adalah kesadaran berolahraga kini tumbuh kembali di benak saya. Artinya intensitasnya agak lebih baik. Ini yang sebetulnya saya syukuri. Sebab olahraga adalah bagian penting yang akan membentuk kesehatan fisik dan daya tahan tubuh menjadi lebih baik. Implikasinya? tugas-tugas pekerjaan maupun amanah lainya bisa saya kerjakan dengan sempurna. Thanks god, thanks my Allah.

Yoron Adventure School


Yoron Adventure School Maret 2005 yang lalu adalah program yang di motori oleh sebuah organisasi pemuda International Youth Association of Japan K.S.K.K. , dibawah naungan Departemen Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Jepang (Mombukagakusyo). Sebuah kegiatan lintas bangsa ( Indonesia, Jepang, Amerika) yang dilakukan di sebuah pulau kecil di wilayah selatan Jepang. Pulau Yoron namnya. Pulau Yoron (dimana pusat kegiatan tersebut berlangsung) adalah pulau beriklim Tropis dan suhunya tidak pernah kurang dari 12 derajat celcius, pada bulan maret rata-rata suhunya 20 derajat celcius. Pulau yang luasnya 21 km2 ini tidak ada pegunungan dan sungai. Di pulau Yoron ini juga terdapat penduduk yang berjumlah 5.900 jiwa. Terdapat juga Industri terkenal di pulau Yoron tersebut yaitu industri gula tebu. Selain itu Pulau Yoron juga sebagai Pulau tempat pariwisata yang menarik. Di pulau inilah berbagai kegiatan adventure school di lakukan, baik kegiatan yang bersifat team work, sport, maupun melatih kemandirian, ketahanan tubuh dan keterampilan-keterampilan lainya. Apa tujuan dari klegiatan ini? Saya sempat mencatat tujuan kegiatan Yoron Adventire School ini, setidaknya ada tujuh tujuan yang dicanangkan panita yaitu: menambah atau memperbanyak relasi/teman yang berasal dari berbagai suku bangsa maupun Negara, melatih melakukan berbagai macam kegiatan, melatih membangun solidaritas sesama dan membangun kesadaran team work/ peduli terhadap sesama team/group, membiasakan budaya salam antar peserta sehingga makin bertambah akrab dan bagus, melatih kemandirian dan melatih memberikan pertolongan kepada orang lain, dan melatih agar bisa menjadi manusia yang jujur. Wah..hebat euih tujuanya...dan memang setelah saya mengikuti kegiatan ini dan merasakan langsung manfaatnya, termasuk juga anak-anak SRI Tokyo yang ikut kegiatan ini. Mereka merasakan betapa pentingnya team work , solidaritas, kejujuran dan keberanian hidup mandiri dan bersama bangsa lain yang berbeda. Semoga ini adalah bagian dari perjalanan anak-anak bangsa untuk menjadi diplomat handal masa depan dan mampu mendamaiakan dunia.

Omatsuri

Bangsa Jepang adalah bangsa yang masih memegang teguh adat dan sisa-sisa peninggalan masa lalunya. Meskipun modernisasi telah dilakukannya sejak Restorasi Meiji 1867.
Omatsuri adalah salah satu budaya yang dilakukan bangsa Jepang sejak berabad-abad. Sebuah budaya yang dilakukan pada saat musim panas tiba sebagai bentuk penyambutan dan bentuk tanda syukur telah hadirnya musim panas dengan sempurna. Setiap komunitas warga Jepang melakukan budaya ini, tak terkecuali di lokasi yang berdekatan dengan Sekolah RI Tokyo, 4-6-6 Meguro Meguroku - Tokyo. Bersama anak-anak Sekolah RI Tokyo saya sempatkan mengambil gambar setelah turut meramaikan kegiatan Omatsuri sebagai bentuk menghormati budaya masyarakat sekitar sekolah. Dengan memakai pakaian khusus untuk kegiatan omatsuri, pakaian khas musim panas masyarakat Jepang tempo dulu yang kini selalau digunakanya pada saat omatsuri tiba. Lalu kegiatanya kaya apa? Arak-arakan ratusan orang mengelilingi wilayahnya(semacam RT) sambil membunyikan bedug yang ditarik ramai-ramai. Seolah-olah sebagai tanda kebersamaan melindungi wilayahnya dan simbol seorang pemimpin harus melindungi rakyatnya, sebab ketua RT nya juga turun ke lapangan berjalan kaki bersama rakyatnya mengelilingi wilayahnya. Karena itu saya kira tidak ada salahnya meramiakan dan menerima ajakan masyarakat Jepang disekitar sekolah. Ya, menghargai budaya masyarakat Jepang sekaligus mengamati budaya Jepang ini dari dekat, dan ternyata cukup menghibur. Ada semacam rasa kebersamaan.

Mengingat-Nya dimanapun berada

Dimusim dingin adalah saat dimana salju turun menutupi sebagian wilayah Jepang. Seperti hamparan kapas putih menyelimuti bumi. Ada keindahan tersendiri yang hampir tak bisa tertuliskan. Rerintikan salju yang jatuh ke tanah membentuk bentangan warna putih yang luas dan indah. Ditempat-tempat yang penuh dengan pepohonan dan bukit-bukit, rerintikan salju membentuk keindahanya tersendiri. Rerintikan yang tersisa singgah di dedaunan memberi efek keindahan yang sempurna, jika angin datang soalah melambai-lambai mengeliat manja mengajak kita tuk bermain dan kita yang diajaknya malah menatapnya dan berdecak kagum. Subhanallah. Di suasana seperti itulah dimusim dingin saya bermaian ski di Kusatsu Gunma Ken bersama teman-teman dan anak-anak Sekolah RI Tokyo. Disitulah kita semua diajak seolah-olah menuju dunia lain, sebab di tanah air tak pernah melihat langsung apalagi bersentuhan. Ya, saat musim dingin adalah saat bersama salju dan dengan melihat fenomena alam yang menarik ini kita semua disadarkan untuk selalau mengingat-Nya dimanapun kita berada, meski harus menahan dinginnya salju.

Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Derpan

Sebuah Refleksi Pendidikan Untuk Masa Depan
Oleh : Ubedilah Badrun

Sengaja tulisan ini dibuat untuk sekedar urun rembuk dalam rangka menyambut peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2005. Hari dimana 116 tahun yang lalu lahir seorang tokoh yang kemudian segenap hidupnya dicurahkan untuk kepentingan pendidikan anak bangsa walau harus menerima resiko merasakan kerasnya penjara kolonial Belanda. Dia pernah membuat Belanda marah dengan tulisanya yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was. Dia adalah Ki Hajar Dewantara, anak Keraton yang tidak mau memakai embel-embel Raden di depan namanya. Ia menangis dan kemudian bergerak ketika melihat anak bangsa tidak bisa sekolah karena sekolah yang dibuat Belanda sangat diskriminatif dan cenderung hanya untuk orang-orang kaya. Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah untuk semua anak bangsa. Di sekolah inilah karakter kebangsaan anak bangsa di bentuk untuk masa depan bangsanya, sebuah kemerdekaan. Inilah salah satu titik penting, betapa pendidikan merupakan wahana yang paling strategis untuk membangun masa depan bangsa sebagaimana yang dicontohkan Ki Hajar Dewantara.
Kini, ketika kemerdekaan bangsa sudah lebih dari 59 tahun, persoalan pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak masalah dan bahkan mengalami keterpurukan. Banyak para ahli pendidikan mengemukakan bahwa keterpurukan bangsa Indonesia hari ini adalah akibat langsung maupun tidak langsung dari kesalahan kebijakan pemerintah Orde Baru(1966-1998) yang tidak peduli pada pendidikan, misalnya untuk sektor pendidikan hanya dianggarkan 7 % saja dari APBN ( Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), padahal Malaysia dan Thailand pada waktu itu sudah menganggarkan lebih dari 20 % untuk pendidikan dari APBN nya. Persoalan anggaran ini meski tidak menjadi satu-satunya faktor tetapi keberadaanya memiliki dampak yang sangat besar bagi kemajuan bangsa.
Setelah runtuhnya rezim Orde Baru, dan kini Indonesia berada pada masa demokrasi yang mulai maju, berbagai masalah masih terus menghantui dunia pendidikan di Indonesia. Seperti yang dilaporkan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkantor pusat di Hongkong, mengumumkan hasil surveinya tentang penilaian mengenai kualitas pendidikan di kawasan Asia yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang pendidikanya terburuk di kawasan Asia dan bahkan satu tingkat di bawah Vietnam. Selain itu kualitas sumber daya manusia Indonesia juga rendah sebagaimana dijabarkan dalam Human Development Index (HDI) pada tahun 2004 lalu. Pada saat ini Indonesia menduduki peringkat 110 dari 173 negara, terburuk di Asia Tenggara. Variable yang digunakan dalam penghitungan HDI mencakup tiga bidang strategis pembangunan yaitu: pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Lalu, bagaimana kita mensikapi fenomena keterpurukan bangsa kita di atas? Sulit memang untuk merubah masalah bangsa yang jumlah penduduknya lebih dari 210 juta jiwa. Padahal kedepan bangsa kita akan menghadapi tantangan yang cukup berat, menyangkut kehidupan bangsa Indonesia secara nasional dan dalam kehidupan global diantara bangsa-bangsa di dunia.
Kunci utama bagi suksesnya pendidikan untuk masa depan bangsa adalah sejauhmana kita tetap optimis menatap masa depan, tanpa harus kehilangan rasionalitas kita untuk selalu mengoreksi diri dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Secercah optimisme kini sudah mulai nampak, misalnya bisa dilihat dari jumlah anggaran pendidikan yang akan dinaikan menjadi 20 % dari APBN. Tidak tangggung-tanggung kenaikan anggaraan pendidikan ini tertuang dalam amandemen UUD 1945. Meski hingga saat ini realisasinya masih belum nampak, tetapi optimisme akan terwujudnya amanah UUD 1945 itu harus terus dijaga. Apalagi kini bangsa kita menjadi bangsa yang Demokratis di mata dunia Internasional (setelah pemilu 2004 menjadi negera demokrasi terbesar setelah Amerika dan India), dan ini menjadi modal penting bagi identitas kemajuan sebuah bangsa.
Optimisme saja memang tidak cukup kalau tidak diikuti dengan langkah-langkah konkrit. Lalu, langkah konkrit apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita untuk masa depan ? Tentu jawabanya amat sangat banyak, tetapi penulis coba menjawabnya secara sederhana saja. Beberapa jawaban sederhana dibawah ini bisa juga sebagai refleksi untuk sama- sama kita renungkan.
Pertama, pendidikan itu tanggungjawab semua warga negara, bukan hanya tanggungjawab sekolah. Konsekuensinya semua warga negara memiliki kewajiban moral untuk menyelamatkan pendidikan. Sehingga diandaikan ada warga negara yang tidak bisa sekolah hanya karena tidak punya uang, maka warga negara yang kaya atau tergolong sejahtera memiliki kewajiban moral untuk menjadi orang tua asuh bagi kelangsungan sekolah anak yang tidak beruntung itu. ( ingat ! akibat krisis yang berkepanjangan, jumlah anak putus sekolah pada tahun ini mencapai puluhan juta anak di seluruh Indonesia).
Kedua, penulis meyakini paradigma yang mengatakan bahwa “pendidikan itu dimulai dari keluarga”. Paradigma ini penting untuk dimiliki oleh seluruh orang tua untuk membentuk karakter manusia masa depan bangsa ini. Keluarga adalah lingkungan yang paling pertama dan utama dirasakan oleh seorang anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Karena itu pendidikan di keluarga yang mencerahkan dan mampu membentuk karakter anak yang soleh dan kreatif adalah modal penting bagi kesuksesan anak di masa-masa selanjutnya.
Ketiga, kurikulum pendidikan, metodologi pengajaran, sitem evaluasi dan kesejahteraan guru, juga adalah hal penting yang harus terus di perbaiki. Masalah kurikulum misalnya bisa dicermati dari padatnya kurikulum atau terlalu banyaknya pelajaran juga menjadi persoalan tersendiri yang seringkali menghambat kreatifitas guru mapun siswa. Penulis sebetulnya lebih setuju jika sekolah menerapkan sitem SKS ( Sistem Kredit Semester), dimana siswa diberikan kebebasan memilih mata pelajaran wajib dan pilihan dan ada ketentuan batas minimal jumlah kredit yang harus diselesaikan sehingga dinyatakan lulus suatu jenjang pendidikan tertentu.(khususnya untuk tingkat SMP dan SMA). Apalagi jika sistem SKS ini dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), mungkin akan lebih membuat siswa menikmati belajar. Masalah metodologi pengajaran juga perlu terus dikembangkan ( ini kewajiban guru). Sementara masalah sistem evaluasi juga perlu terus diperbaiki, seperti misalnya masalah Ujian Nasional yang hingga kini masih dipermasalahkan. Dan masalah kesejahteraan guru, ini juga perlu di cermati. Sebab, bagaimana mungkin guru akan asyik mengajar sementara urusan kesejahteraannya bermasalah. Atau bagaimana mungkin guru mengajar tidak gagap tehnologi dan informasi, sementara ia tidak punya uang untuk beli majalah, jurnal, buku-buku baru, apalagi beli komputer yang bisa akses dengan mudah ke internet!?. Karena itu kesejahteraan guru juga harus diperhatikan.
Keempat, untuk meningkatkan kualitas pendidikan demi masa depan diperlukan juga ketegasan untuk menegakkan aturan-aturan maen pendidikan yang konsisten dan konsekuen. Sekolah seringkali tidak menghargai siswa yang belajar sungguh-sungguh, buktinya ada banyak siswa yang enggak belajar, malas-malasan, nilainya selalu merah, tapi naik kelas juga?! Pokoknya 100% selalu naik kelas. Ini kan sama artinya tidak menghargai anak yang sungguh-sungguh belajar. Sebab yang santai-santai saja pasti naik kelas. Dan juga sekaligus tidak mendidik anak untuk belajar menghadapi resiko. Karena itu jangan heran jika mental manusia Indonesia cenderung enggak berani mengambil resiko, karena di sekolah tidak diajarkan untuk menghadapi resiko.?
Kelima, pendidikan itu tidak hanya untuk mencerdaskan anak dalam satu kategori kecerdasan, misalnya hanya kecerdasan intelektual (IQ) tetapi juga untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan lainya. Seperti kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan rasa (EQ), dan kecerdasan ketahanmalangan (AQ), dan sebagainya. Atau para ahli psikologi menyebutnya sebagai Multiple Intelligence. Sebab, salah satu penyebab bangsa kita berlarut-larut dalam krisis juga karena bangsa kita miskin SQ atau tepatnya miskin ahlak. Karena itu hal-hal yang sifatnya spiritual juga menjadi sesuatu yang penting untuk terus di jaga dan dikembangkan melalui pendidikan. Termasuk juga membentuk semangat team work, pluralism, dan optimistik perlu dikembangkan di sekolah, misalnya bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler, OSIS, dan kegiatan keagamaan. Itulah sebabnya Ki Hajar Dewantara sejak awal mendirikan sekolah Taman Siswa juga mengedepankan pendidikan yang memekarkan rasa.
Keenam, mulailah merubah dari diri sendiri. Sebab untuk kemajuan masa depan bangsa harus bisa dimulai dari diri sendiri. Tentu saja dengan terus meningkatkan kualitas diri. Bukankah kemajuan sebuah bangsa tidak bisa terwujud dengan perilaku santai dan bermalas-malasan !!!?.
Ubedilah Badrun, Pemerhati Pendidikan dan Praktisi Pendidikan. Saat ini tinggal di Tokyo dan mengajar di Tokyo Indonesian School.

Bila Golkar Menang Pemilu 2004

Bila Golkar Menang Pemilu 2004
Oleh : Ubedilah Badrun
Lebih dari seratus hari lagi Pemilu 2004 akan berlangsung. Bagi partai politik yang akan bertarung pada pemilu 2004 nanti, hitungan hari itu menjadi begitu penting, karena menyangkut langkah-langkah strategis yang harus dilakukannya untuk mencapai kemenangan, atau paling tidak agar bisa memiliki wakil di parlemen. Karenanya berbagai langkah strategis dilakukan oleh banyak partai, dari partai besar sampai partai gurem sekalipun. Banyak kegiatan partai yang secara substantif sebetulnya sudah memulai kampanye meski dikemas dengan beragam kegiatan yang nampaknya seperti kegiatan sosial ataupun kegiatan akademik, misalnya dalam bentuk bakti sosial atau seminar, diskusi, dan dialog. Bahkan di beberapa tempat nampak bendera partai bertebaran di sepanjang jalan. Partai politik nampaknya meyakini bahwa itu tidak dikategorikan ‘mencuri’ start.
Rupanya yang ikut sibuk menjelang pemilu ini tidak hanya Partai Politik tetapi juga lembaga-lembaga lain di luar partai politik. Sebut saja misalnya sejumlah LSM ikut sibuk mengadakan survei mengenai Presiden dan kemungkinan partai yang akan menjadi pemenang Pemilu pada 2004 nanti. Denny JA (Media Indonesia, 29 Sept 2003) mencatat bahwa dalam enam bulan terakhir ini, ada beberapa survei yang dikerjakan oleh beberapa lembaga (IRI,IFES. LP3ES, LSI), namun dengan hasil yang kurang lebih sama. Bahwa partai Golkar dan orang-orang Golkar akan kembali naik ke panggung politik. Sebagaimana yang dipublikasikan oleh lembaga lain, Denny JA kemudian mengemukakan bahwa LSI juga sampai pada konklusi yang sama. Partai Golkar akan kembali mendominasi parlemen, jika pemilu diselenggarakan hari itu (di hari survei, bulan Agustus 2003). Perkiraan perolehan Golkar sebanyak sekitar 30% dan mengalahkan PDIP yang anjlok. Persentase yang diperoleh Golkar memang berbeda-beda di antara lembaga survei. Namun menurut Denny JA urutannya tetap sama, bahwa Golkar nomor satu.
Sejumlah temuan survei diatas meskipun tingkat akurasinya tidak setajam Gallup Poll di Amerika atau SWS (Social Weather Station) di Filipina, sebagaimana disinyalir Denny JA (Republika,4 oktober 2003), nampaknya hasil polling diatas menurut hemat penulis perlu dicermati secara lebih prediktif dengan sebuah pengandaian. Ada pengandaian yang perlu didiskusikan dalam mencermati kemungkinan hasil pemilu 2004 dan efektifitas pemerintahan baru setelah pemilu dilaksanakan. Pengandaian itu memunculkan sebuah pertanyaan penting, yakni “ diandaikan Golkar menjadi pemenang Pemlilu pada 2004 nanti, bagaimanakah efektifitas pemerintahan bisa dijalankan?”. Pengandaian ini penting untuk paling tidak memberikan satu wacana yang sifatnya antisipatif atau prefentif.
Pengandaian dan Efektifitas Pemerintahanya
Andai Partai Golkar menjadi pemenang Pemilu pada 2004 nanti, baik pemenang jumlah kursi di DPR maupun Presiden yang dijagokannya menang, ada beberapa argumentasi rasional untuk meyakinkan bahwa perjalanan pemerintahannya sulit menjadi efektif, atau yang berjalan adalah pemerintahan yang tidak efektif. Beberapa argumentasi tersebut bisa dicermati dari tiga hal. Pertama, Partai Golkar adalah partai yang tidak lepas dari stigma Orde Baru. Stigma ini tentu saja beralasan karena memang selama Orde Baru berkuasa, partai Golkar lah yang menguasai hampir seluruh proses politik. Sehingga sejumlah kesalahan besar Orde Baru tidak bisa lepas dari kesalahan Golkar. Terhadap kenyataan ini, menjadi mahfum kalau kemudian kelompok-kelompok penentang pada masa Orde Baru menjadi oposisi yang kuat dan massif melawan pemerintahan yang dikuasai Golkar, dengan sejumlah tuntutan atas dosa masa lalu Golkar. Tentu saja pemerintahan Golkar sangat sulit mensikapi protes-protes kelompok penentangnya, sehingga ketegangan politik akan terjadi dan menyita waktu yang amat panjang. Implikasinya jalannya pemerintahan baru menjadi terganggu atau akan tidak efektif.
Kedua, Partai Golkar pada beberapa tahun terakhir ini telah memproduksi dosa baru yang masih menjadi masalah. Sebut saja misalnya mengenai Buloggate II yang secara hukum dan opini publik masih menempatkan Akbar Tanjung sebagai terpidana korupsi dana Bulog yang diduga digunakan untuk kegiatan Partai. Masalah ini akan tetap mengemuka dan menjadi ganjalan politik partai Golkar jika memenangkan Pemilu pada 2004 nanti. Saat ini saja realitas tersebut sering menjadi dagelan politik yang menggelikan dan merendahkan kualitas politik bangsa, hanya gara-gara satu orang kemudian Undang-Undang tentang Pemilihan Presiden yang diproduksi DPR masih membolehkan terdakwa mencalonkan diri menjadi Presiden. Dalam konteks masalah Akbar Tanjung ini, pada gilirannya akan mengganggu jalannya pemerintahan baru. Artinya pemerintahan Golkar akan menghadapi tuntutan publik mengenai masalah Akbar Tanjung yang nota bene adalah ketua umum partai Golkar. Sehingga jalannya pemerintahan setidaknya akan terganggu, dan jika masalah ini makin meruncing, maka dengan sendirinya pemerintahan akan berjalan tidak efektif.
Ketiga, kemenangan partai Golkar dengan sendirinya akan berimplikasi pada kuatnya bargaining position Golkar dalam berhadapan dengan partai-partai politik lainnya, baik di DPR maupun di kabinet bentukan Golkar. Hal ini berakibat pada terhambatnya penyelesaian agenda reformasi total yang digagas mahasiswa dan rakyat pada 1998, karena banyak agenda yang pada akhirnya bisa memperkarakan orang-orang Golkar. Sebut saja misalnya dalam agenda supremasi hukum dan penegakkan Hak Azasi Manusia, khususnya dalam kasus mantan Presiden Soeharto dan sejumlah tragedi kemanusiaan seperti tragedi Trisakti, Semanggi I dan II. Dengan masalah yang pada akhirnya bisa memperkarakan orang-orang Golkar ini, tentu saja Golkar sulit untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut secara total. Implikasinya pemerintahan baru akan berhadapan dengan kelompok penentang seperti mahasiswa yang radikalisasinya makin menguat, sehingga bisa berakibat pada tidak efektifnya pemerintahan baru.
Sebetulnya, selain tiga argumentasi diatas yang mengakibatkan akan tidak efektifnya pemerintahan baru jika partai Golkar menang, ada argumentasi empirik yang sudah berjalan dan terjadi pada setelah pemilu 1999 yang lalu. Bahwa hasil pemilu 1999 menunjukkan partai Golkar memperoleh suara pada peringkat kedua setelah PDIP. Pada akhirnya partai Golkar masih kuat mengendalikan DPR dan bahkan pemerintahan, sehingga pemerintahan baru berjalan tidak efektif untuk menegakkan reformasi total hingga hari ini. Pada peringkat kedua saja pemerintahan baru berjalan tidak efektif, apalagi jika partai Golkar perolehan suaranya diatas partai-partai lainnya. Artinya memang sulit berharap pemerintahan akan berjalan efektif jika pemenang pemilu justru diraih partai yang menjadi sumber masalah, atau paling tidak partai yang memiliki dosa politik tak terbantahkan.
Tindakan Prefentif
Jika prediksi ketidakefektifan pemerintahan baru itu benar atau setidaknya mendekati kebenaran, maka terlalu banyak social cost yang mesti dibayar rakyat, dan kerugian pada akhirnya akan menimpa masa depan bangsa ini. Karena itu yang diperlukan saat ini adalah tindakan prefentif agar kerugian besar itu tidak terjadi. Beberapa tindakan prefentif bisa dilakukan antara lain dengan dua hal. Pertama, kekuatan-kekuatan politik reformis termasuk partai politik reformis yang bebas dari dosa politik dan memiliki etika politk yang baik, segeralah melakukan konsolidasi politik secara sungguh-sungguh. Ego politik sesama kaum reformis nampaknya perlu dihilangkan, sebab bisa jadi hal itu menjadi titik lemah yang memudahkan kekuatan politik maupun partai non reformis memperoleh kemenangan
Kedua, fungsi sosialisasi politik dari partai politik (meminjam istilah Gabriel A Almond, Comparative Politics Today,1974), nampaknya perlu dilakukan secara lebih serius ke arah sosialisasi politik yang sehat tanpa harus kehilangan spirit untuk mengakhiri hegemony politik Orde Baru yang penuh dosa politik itu. Apa yang dilakukan Tewas ORBA ( komite waspada Orde Baru) beberapa hari yang lalu tentang Calon Presiden yang harus bebas Orde Baru bisa menjadi contoh penting bagi sebuah sosialisasi politk yang sehat dan antisipatif. Untuk mendudukkan persoalan masa depan bangsa kepada masyarakat ketimbang memenuhi kepentingan ego elit politik tertentu.
Jika dua hal minimal tersebut tidak dilakukan kaum reformis, dan kemudian partai Golkar kembali memenangkan pemilu maka realitas itu akan mendorng kemungkinan radikalisasi yang menguat dikalangan mahasiswa maupun rakyat. Wallahu a’lam.
( Ubedilah Badrun, Mengajar Civics Education & Social Science di The Tokyo-Indonesian School – Jepang ).

Catatan Bagi Pemilih di Luar Negeri

Pemilu 2004 :
Sebuah Catatan Bagi Pemilih di Luar Negeri
Oleh: Ubedilah Badrun
Undang-undang nomor 12 tahun 2003 tentang pemilu memberikan gambaran cukup jelas sehingga bisa disimpulkan bahwa pemilu 2004 berbeda dengan 1999, termasuk dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Jika diamati dari sistem yang dipilihnya nampak sebagai sistem yang relatif baru bagi bangsa Indonesia. Untuk itu menurut hemat penulis ada baiknya diulas secara singkat terlebih dahulu mengenai sistem baru untuk pemilu 2004 ini,sebelum penulis memberikan catatan bagi para pemilih di luar Negeri, khususnya di Jepang.
Hal Baru di Pemilu 2004
Ada beberapa hal baru dalam pemilu yang akan digelar awal April nanti (5 April). Hal baru yang perlu diketahui antara lain misalnya dalam hal penetapan anggota DPR, DPRD provinsi, kab./kota dilakukan dengan proporsional dengan daftar calon terbuka. Pemilih mencoblos satu tanda gambar parpol dan satu calon di bawah tanda gambar parpol. Selain itu, dipilih pula anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dengan sistem distrik. Daerah pemilihan adalah provinsi yang setiap provinsi diwakili empat orang untuk diperebutkan. Pemilih mencoblos satu calon dalam tanda gambar, dan calon yang memperoleh suara terbanyak 1-4 ditetapkan sebagai calon terpilih DPD.
Selain itu, tugas pemilih adalah mencoblos calon presiden pada awal juli nanti (5 juli). Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol yang memenuhi persyaratan perolehan suara pada Pemilu anggota DPR sekurang-kurangnya 3 % dari jumlah kursi di DPR atau 5 % dari perolehan suara sah secara nasional. Pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak dan merata terpilih sebagai presiden dan wakil presiden. Suara terbanyak dan merata yang dimaksud adalah: jumlahnya lebih dari 50 % dari total jumlah suara di tingkat nasional, serta tersebar merata ( di atas 20 %) di sekurangnya separo dari jumlah propinsi di Indonesia (16 propinsi). Apabila tidak ada pasangan calon yang memperoleh suara 50 % lebih, maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dipilih kembali oleh rakyat secara langsung. Pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak hasil pemilihan lanjutan (tahap kedua, 20 september) ini dinyatakan sebagai pemenang pemilihan Presiden dan wakil Presiden.
Catatan bagi Pemilih di Luar Negeri

Secara substansial pemilu 2004 yang diselenggarakan di luar negeri dengan di indonesia sesungguhnya sama saja, karena menggunakan undang-undang dan sistem yang sama. Yang membedakannya hanyalah hal-hal yang bersifat tehnis. Misalnya menyangkut kepanitiaan (PPLN), mekanisme pendaftaran pemilih ( tidak perlu pulang ke Indonesia), hingga saat pemungutan suara dan tentu saja suasana pemilu yang berbeda.
Satu hal yang menarik adalah berkenaan dengan jumlah pemilih di luar negeri. Menurut biro pengolahan data dan pengendalian informasi KPU, jumlah pemilih di luar negeri bisa mencapai sekitar 2,8 juta. Artinya jumlah tersebut cukup signifikan dan bahkan cukup strategis bagi perolehan suara partai. Apalagi dengan sistem baru, khususnya pada saat pemilihan Presiden dan wakil presiden. Betapa satu suara begitu penting artinya bagi kemenangan sang calon Presiden dan wapres. Bagaimana dengan jumlah pemilih di Jepang ? atau khususnya di Tokyo ? Menurut data dari PPLN (lihat www.marsinah.com), jumlah pemilih sementara yang terdata hingga tulisan ini dibuat mencapai 7080 pemilih. Angka sementara yang tidak sedikit. Artinya secara kuantitatif jumlah pemilih di Tokyo lumayan besar, menurut perkiraan penulis bisa mencapai antara 9.000 sampe 10.000 pemilih. Ini perlu kerja jujur dan kerja keras PPLN untuk proaktif memastikan jumlah pemilih yang sebenarnya. (meski jumlah pemilih pasti seharusnya sudah tercatat dan terdata di KPU hingga akhir desember 2003).Terlepas dari jumlah pemilih yang relatif banyak tersebut, sebagai sebuah catatan, pada sisi yang lain juga perlu di cermati, sisi lain tersebut misalnya berkenaan dengan kemungkinan pelanggaran-pelanggaran dalam pelaksanaan pemilu nanti.
Dalam Keputusan KPU Nomor 11 tahun 2003 misalnya dijelaskan, klasifikasi pelanggaran berdasarkan tahap-tahap pelaksanaan pemilu. Klasifikasi tersebut bisa dicermati mulai dari Pendaftaran Pemilih dan Pendataan Penduduk Berkelanjutan (P4B), pendaftaran peserta pemilu, penetapan daerah pemilihan dan jumlah kursi, pencalonan anggota DPR, DPD, dan DPRD, kampanye pemilu, pemungutan dan penghitungan suara, penetapan hasil pemilu, penetapan perolehan kursi dan calon terpilih, dan pengucapan sumpah dan janji.
Dengan merujuk klasifikasi tersebut , pemilu di luar negeri juga memiliki potensi-potensi pelanggaran, khususnya berkenaan dengan mekanisme pendaftrana peserta pemilu, kampanye pemilu, pemungutan dan perhitungan suara, hingga pengiriman suara ke KPU. Potensi ini bisa saja terjadi jika mekanisme pengawasan dan pemantauan pemilu tidak berjalan. Apalagi kalau tidak ada pemantau independent. Karena itu di luar negeri, khususnya di Jepang ini juga diperlukan semacam komite pemantau pemilu independen selain panwaslu atau sebuah komite yang sifatnya moral force. Sebab jika mencermati keberadaan Panwaslu (panitia pengawas pemilu) yang telah dibuat secara formal sesungguhnya memiliki kelemahan. Sejak awal, kedudukan panwaslu dalam UU adalah subordinasi KPU. Misalnya, pada saat yang sama ia harus mengawasi tahap-tahap pemilu yang dilakukan KPU yang membentuknya. Hal ini bisa saja muncul masalah sangat dilematis yang kemudian berdampak pada penyelesaian sengketa, perselisihan, atau pelanggaran mengenai pemilu. Bagaimana dengan keberadaan panwaslu di jepang ? penulis pikir inilah pertanyaan yang perlu diajukan pada PPLN di Jepang. Kalau mengenai Komite pemantau pemilu independent ? penulis pikir ini pertanyaan untuk warga negera indonesia yang ada di Jepang, khususnya di Tokyo. Perlukah komite pemantau tersebut?
Hal lain yang juga menjadi catatan penulis bagi para pemilih di Tokyo adalah bersumber dari pernyataan bahwa kualitas hasil pemilu di Tokyo sangat ditentukan oleh pemilih. Karena itu penulis mencoba untuk mencermati karakter pemilih. Setidaknya ada 4 karakter pemilih di Tokyo. Pertama, pemilih awam. Kedua, pemilih pemula terdidik. Ketiga, pemilih primordial subyektif. Keempat, pemilih kritis.
Pemilih awam adalah mereka yang tergolong warga negara yang minim informasi mengenal politik, khsusunya mengenai pemilu. Sehingga memiliki kecenderungan untuk memilih apa saja. Pemilih pemula terdidik adalah mereka yang tergolong tau informasi mengenai politik, khususnya pemilu, dan baru pertama kali ikut pemilu. Sehingga kegamangan pilihan bisa saja terjadi. Pemilih primordial subyektif adalah mereka yang tergolong anggota partai peserta pemilu atau simpatisan, sehingga secara subyektif pasti memilih partainya. Sedangkan pemilih kritis adalah mereka yang secara rasional sadar politik dan secara kritis bisa mencermati program partai, bahkan tau calon legislatif dari suatu partai, sehingga bisa berfikir rasional sebelum menjatuhkan pilihan. Dari keempat karakter tersebut, nampaknya karakter keempat adalah karakter pemilih yang perlu disosialisasikan.
Untuk itu ada panduan bagi pemilih kritis : (1)Mencari informasi yang lengkap dan benar mengenai Pemilu, (2) Mencari tau tentang latar belakang calon (DPR,DPRD,DPD, Presiden&wapres) pilihan anda,
(3)Mencari tau tentang dasar dan program partai yang sesuai kepentingan anda, (4)Tidak menentukan pilihan karena faktor artifisial. (5)Menentukan pilihan secara independen ( bukan karena paksaan atau hadiah tertentu). Dan ke (6) adalah melaporkan kejanggalan/pelanggaran pelaksanaan pemilu ke Panwaslu, pemantau pemilu, atau media massa.

Refleksi
Meski pemilu 2004 dibayangi keraguan akan adanya perubahan yang sistemik bagi perbaikan bangsa, tetapi setidaknya pemilu adalah jalan baik yang mesti kita tempuh tuk mewujudkan masyarakt demokratis sebagai tahapan penting terbentuknya masyarakat beradab dan maju. Tetapi persoalannya dimana kunci penting tuk mendorong perubahan itu menjadi kenyataan di negara yang masih transisional seperti Indonesia ?
Guillermo O’Donnel dan Philippe Schmitter, dalam Transitions from Authoritarian Rule. Tentative Conclusions about Uncertain Democracies (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1986: 19, 48) memberikan wacana penting bahwa peran elit politik (para pemimpin) untuk menjalankan demokrasi dengan baik dan keberadaan civil society yang mampu bertindak otonom, independent dan mampu diorganisior untuk tindakan yang terarah, adalah kunci penting bagi suksesnya masa transisi menuju sejatinya demokrasi.
Karena itu, dalam konteks pemilu 2004 ini dua pemain kunci tersebut menjadi begitu berarti. Bahwa penyelenggara, termasuk partai peserta pemilu, calon DPD dan Calon Presiden & Wapres (sebagai elit politik) harus memiliki komitmen yang jelas bagi terwujudnya masyarakat demokratis. Sehingga kecurangan-kecurangan pemilu bisa dihindari. Dan disaat yang sama masyarakat pemilih ( bagian dari civil society) harus mampu bertindak otonom, independent, rasional dalam menjatuhkan pilihannya, sekaligus aktif melakukan pemantauan. Sehingga produk pemilu 2004 adalah elit politik yang cukup berkualitas. Amin.



Ubedilah Badrun
( Alumnus program pascasarjana Ilmu Politik UI, kini mengajar di Tokyo Indonesian School ).


Kaum Reformis Sulit Bersatu

Sebuah Catatan Untuk Cak Nur :
Kaum Reformis Sulit Bersatu !?
Oleh : Ubedilah Badrun

Tulisan Cak Nur dengan judul Kaum Reformis Harus Satukan Langkah di harian Kompas (24 Maret ’04) menarik untuk direspon. Khususnya yang berkaitan dengan mimpi atau tepatnya harapan Cak Nur akan bersatunya langkah kaum reformis dalam satu gerakan untuk membentuk kekuatan pengimbang menghadapi kemungkinan berkuasanya kembali kekuatan status quo melalui pemilu 2004. Bisakah kaum reformis di Indonesia saat ini menyatukan langkah? Penulis cenderung menyatakan bahwa kaum reformis di Indonesia saat ini sulit untuk bersatu. Ada beberapa alasan untuk membuktikan bahwa kaum reformis di Indonesia saat ini sulit bersatu. Setidaknya bisa di cermati dari tiga hal penting. Pertama, bisa dicermati dari realitas politik saat ini. Kedua, kebiasaan koalisi yang pragmatis. Ketiga, faktor ego elit politik kaum reformis. Ketiga hal tersebut perlu dijelaskan untuk menentukan langkah yang apa yang harus dilakukan para reformis?
Realitas Politik Saat Ini
Di tengah hiruk pikuk kampanye pemilu 2004 yang saling menjatuhkan citra sesama partai politik dengan pembenaran yang dibangunnya masing-masing, terbesit satu kesimpulan bahwa memang wajah perpolitikan Indonesia masih dipenuhi warna-warni bias demokrasi dan bias keberpihakan pada agenda reformasi total. Betapa tidak bias? Kita bisa melihat dengan mata telanjang bahwa ada banyak partai politik yang melakukan pelanggaran pada masa kampanye ini, termasuk cenderung melakukan money politic dengan beragam modus untuk merebut konstituen. Ini satu indikasi dari bias demokrasi sekaligus bias keberpihakan pada agenda reformasi total. Bukankah salah satu agenda penting reformasi total sejak digulirkannnya pada 1998 adalah menolak segala jenis money politic ? Perilaku money politic pada saat kampanye ini amat memprihatinkan, sebab terjadi selain menggunakan beragam cara, juga parahnya lagi budaya itu dilakukan oleh partai politik yang mengaku sebagai partai reformis. Fenomena ini paling tidak bisa menjadi catatan penting bahwa realitas politik saat ini masih bergaya lama.
Selain itu, ada realitas politik lain yang juga memprihatinkan, dimana partai yang mengaku reformis tidak malu-malu mau bergandengan tangan dengan kekuatan politik lama, baik kekuatan politik lama yang sifatnya individual maupun kekuatan politik lama dalam wujud partai. Bahkan partai-partai politik yang mengaku reformis itu berebut untuk meminang kekuatan lama. Dan, partai yang dipinang tak lain dan tak bukan adalah motor penting bagi mesin politik rezim otoriter Orde Baru yakni partai Golkar. Realitas ini pada akhirnya bisa berimplikasi pada sulitnya kepemimpinan politik baru hasil pemilu dalam menjalankan agenda reformasi total. Sebab kepemimpinan politik baru nampaknya masih diwarnai pemain lama. Hal ini jelas memicu biasnya kekuatan reformis, karena bercampur dengan kekuatan non reformis. Jika satu saja kekuatan reformis melebur dengan kekuatan lama, itu artinya salah satu kekuatan reformis sulit untuk disatukan dengan kekutan reformis lainnya.
Koalisi Yang Pragmatis
Setelah pemilu legislatif tanggal 5 April nanti usai, diduga akan terjadi koalisi antar partai-partai politik, khususnya partai-partai yang memperoleh suara signifikan diatas 3 persen. Hal ini dilakukan untuk mengusung calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung pada 5 Juli nanti. Kecenderungan koalisi ini sangat dipengaruhi oleh perolehan suara partai pada pemilu legislatif. Artinya partai-partai yang memperoleh suara besar, setidaknya yang memperoleh suara 10 sampai 20 persen memiliki peluang besar untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden sesuai keinginan partai tersebut, sehingga partai yang hanya memperoleh suara 3 persen atau kurang, hanya ikut saja dibelakangnya. Dalam konteks itu, berdasarkan banyak hasil survei dan kecenderungan mutakhir dimungkinkan bahwa partai-partai status quo akan tetap mendominasi perolehan suara. Karena itu koalisi yang terjadi sangat dipengaruhi oleh kehendak partai status quo tersebut. Sehingga partai-partai reformis yang nota bene adalah partai kecil akan cenderung ikut berkoalisi dengan partai status quo, hanya karena kepentingan yang sangat pragmatis, semisal kepentingan untuk menjadi menteri, dirjend, dan sebagainya. Artinya koalisi campuran ini juga bisa menjadi picu yang menunjukkan sulitnya kaum reformis untuk bersatu hanya karena mereka yang mengaku reformis itu kalah oleh kepentingan nafsu kekuasaan. Hal ini terjadi jika PDIP dan Partai Golkar melakukan koalisi dengan menyandingkan Megawati dengan Akbar Tanjung atau yang lainnya yang berasal dari Partai Golkar untuk kompetisi dalam pemilu Presiden dan wakil presiden.
Di sisi yang lain, misalnya kekuatan reformis melakukan koalisi untuk menandingi koalisi di atas sehingga mampu menyandingkan Amien Rais dengan Susilo Bambang Yudoyono atau Hasyim Muzadi atau yang lainnya untuk merebut kusri presiden dan wakil presiden. Menurut hemat penulis koalisi ini juga masih bernuansa pragmatis. Sebab koalisisnya tidak dibangun dengan komitmen program, tetapi sekali lagi masih dipengaruhi oleh kepentingan nafsu kekuasaan, sebab koalisi ini didukung oleh partai-partai yang perolehan suaranya kecil, sehingga orientasi koalisinya masih seputar bagi-bagi kekuasaan agar partai-partai yang ikut koalisi tersebut kebagian kue kekuasaan juga. Ini artinya koalisi yang terjadi adalah koalisi artifisial yang amat pragmatis, sehingga yang terjadi sesungguhnya bukan bersatunya kekuatan reformis tapi bersatunya nafsu kekuasaan. Karena itu sulit dikatakan hal ini sebagai bersatunya kekuatan reformis. Contoh mutakhir yang sejenis koalisi ini yang kemudian berakhir dengan kegagalan adalah koalisi yang dilakukan pasca pemilu 1999 yang lalu.
Ego Elit Politik Kaum Reformis
Masih segar dalam ingatan kita bahwa setelah pemilu 1999 yang lalu dinamika politik di tanah air diwarnai oleh contoh-contoh terbaik yang merepresentasikan perilaku elit politik yang egoistik. Ego dalam konteks ini dimaknai sebagai nafsu politik atau tepatnya nafsu untuk berkuasa sebagaimana yang diungkapkan Nietzshe. Ada banyak fenomena yang bisa dicermati untuk membuktikan betapa nafsu untuk berkuasa pada pasca pemilu 1999 itu nampak jelas. Misalnya dari terpilihnya Abdurrahman Wahid menjadi Presiden ( ulah nafsu berkuasanya poros tengah dan sekaligus juga nafsu berkuasanya Abdurrahman Wahid karena mau dijadikan korban nafsunya poros tengah pada saat itu), kemudian pemberhentian para menteri , pemberhentian Presiden Abdurrahman Wahid oleh MPR, hingga terpilihnya Megawati Soekarnoputri. Anehnya mereka yang mengumbar nafsu untuk berkuasa itu disebut-sebut sebagai para reformis.
Nampaknya kebiasaan menunjukkan nafsu untuk berkuasa itu makin terlihat jelas saat kampanye pemilu 2004 ini. Dan lagi-lagi terjadi juga dikalangan elit politik yang mengaku reformis. Mereka saling menjatuhkan satu sama lain, terlebih makin rame nafsu berkuasa ini dengan munculnya kembali kekuatan politik rezim otoriter Orde baru yang mengaku sebagai “antek Soeharto”. Lengkaplah perlombaan nafsu itu di panggung pemilu 2004 ini. Sementara rakyat hanyalah dijadikan sebagai obyek untuk dijadikan sekutu bagi nafsu untuk berkuasanya elit politik dan kemudian rakyat dilupakan.
Realitas perilaku elit politik yang megumbar nafsu untuk berkuasa nampaknya sudah makin parah menggejala di kalangan kaum reformis. Ini bisa dicermati dari sulitnya kita melihat elit politik kaum reformis ini duduk bersama membicarakan dan memikirkan masa depan bangsa. Sebab nampaknya sesama elit politik kaum reformis ini sama-sama memiliki nafsu untuk berkuasa yang amat besar, semuanya ingin jadi presiden. Masing masing menjaga gengsi dan menaikan bargaining position-nya atas nama mengikuti logika demokrasi. Ini yang juga menjadikan sulitnya kaum reformis menyatukan langkah. Jadi harapan Cak Nur untuk menyatukan langkah kaum reformis itu masih berada pada wilayah mimpi.
Langkah apa?
Nampaknya elit politik kaum reformis masih berputar pada rotasi eksperimentasi politik. Mereka masih melakukan percobaan-percobaan politik dengan mengumbar nafsu ingin berkuasanya. Tanpa disadari bahwa sesungguhnya rakyatlah yang menjadi korban dari eksperimen politik mereka. Karena itu langkah cukup bijak nampaknya perlu dimunculkan. Langkah cukup bijak yang bisa dilakukan antara lain adalah menghentikan eksperimen politik itu dan lakukan rasionalisasi politik dengan mempertimbangan kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan rakyat banyak. Sebab rakyat tidak perlu eksperimen politik tetapi rakyat butuh kepastian politik dan sikap konsisten elit politik untuk membuktikan janji-janjinya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Jadi untuk menyatukan langkah kaum reformis saat ini menurut hemat penulis adalah sulit, kecuali eksperimen politik itu dihentikan terlebih dulu dengan cara sesama elit politik kaum reformis legowo untuk tidak mengumbar nafsu untuk berkuasanya. Sebab memang kemenangan kaum reformis akan muncul jika “ tidak ada dua matahari”!?.
Ubedilah Badrun, alumnus program pascasarjana Ilmu Politik UI, kini mengajar Civics Education di The Tokyo-Indonesian School-Japan.










Demokratisasi Ala NU NIhon (Jepang)

Demokratisasi ala NU Jepang
Oleh : Ubedilah Badrun
Robert A Dahl, ilmuwan politik peraih Lippincott Award pada tahun 1989 untuk karyanya yang luar biasa, A Preface to Democratic Theory (1956), melakukan kritik cukup tajam terhadap demokrasi dalam buku Democracy and Its Critics (1989). Salah satu point penting yang bisa diambil dari kritik Dahl adalah ketika demokrasi memberi ruang kebebasan sementara pada saat yang sama juga membatasi kebebasan. Misalnya kasus batasan usia pemilih, atas nama undang-undang politik produk lembaga demokrasi (parlemen), atau seperti kasus aktual di Indonesia misalnya terhalangnya Gus Dur memperoleh hak kebebasan untuk dipilih melalui pemilihan Presiden 2004 dengan alasan tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai SK KPU Nomor 26 tahun 2004 yang diyakini KPU merujuk Undang-undang kesehatan Nomor 23 tahun 1992 produk lembaga demokrasi. Pada satu perspektif demokrasi memang nampak bermasalah. Bahkan beberapa paparan sejumlah studi, dari Robert Kaplan (The Coming Anarchy, 2000) hingga Noreena Hertz (Silent Takeover, 2001) cukup mempertegas betapa "buruk"-nya demokrasi.
Sejumlah kelemahan tentang demokrasi sesungguhnya tidak mengurangi betapa demokrasi memiliki keunggulan yang patut di apresiasi. Seperti apa yang dikemukakan pengkritik demokrasi Robert Dahl. Justru kemudian Robert Dahl dalam bukunya yang cukup baru On Democracy (1999) memaparkan keunggulan-keunggulan demokrasi dibanding alternatif mana pun yang mungkin ada. Menurut Dahl, demokrasi, paling tidak, memiliki keunggulan dalam sepuluh hal yakni (1) menghindari tirani; (2) menjamin hak asasi; (3) menjamin kebebasan umum; (4) menentukan nasib sendiri; (5) otonomi moral; (6) menjamin perkembangan manusia; (7) menjaga kepentingan pribadi yang utama; (8) persamaan politik; (9) menjaga perdamaian; dan (10) mendorong kemakmuran. Kelebihan kelebihan demokrasi inilah yang kami coba apresiasi dalam bentuknya yang khas NU-Nihon untuk turut mendorong gerbang pentingnya konsolidasi kekuatan pro demokrasi dari tingkat elit sampai ke akar rumput, dari kaum muda yang ada di Jepang sampai akar rumput yang ada di tanah air. Sebuah tugas untuk turut melakukan proses demokratisasi yang hakekatnya tak kan ada finish. Sebab demokratisasi memang pilihan paling mungkin sebagi sebuah proses yang tak kan pernah selesai digarap oleh seluruh pencinta demokrasi, apatah lagi Indonesia yang masih transisi. Disinilah pentingnya kesabaran dalam memperjuangkan demokrasi, begitu kata Gus Dur pada 3 Agustus 2001 di tugu Proklamasi.
Persoalanya “apa yang bisa kita lakukan untuk tanah air dalam konteks demokratisasi itu?”. Paling tidak ada tiga agenda penting yang bisa dilakukan NU-Nihon untuk turut mengambil bagian dalam demokratisasi. Pertama, demokrasi masih terus perlu didiskusikan untuk mematangkan gagasan-gagasan demokrasi yang aplicable untuk Indonesia. Artinya proses produksi gagasan dari komunitas muda Nu-Nihon perlu terus difasilitasi, dan tak menutup kemungkinan bersama komunitas muda lainya untuk sama-sama berjuang menegakkan demokrasi di Indonesia. Termasuk juga membuka ruang kemungkinan diskursus demokrasi dalam perspektif Islam maupun ala Jepang. Ini semua bisa dilakukan dengan model pengajian politik. Kedua, forum-forum yang lebih luas melibatkan komponen masyarakat Indonesia di Jepang untuk membicarakan masa depan bangsa perlu diadakan, terutama berkenaan dengan kasus-kasus aktual yang memiliki pengaruh besar bagi jalanya Republik yang kita cintai. Ini bisa dilakukan dengan mengadakan diskusi publik atau seminar. Ketiga, turut menjadi mediasi bagi terbangunya kekutan Civil Society di tingkat pedesaan , terutama membangun kesadaran masyarakat Desa untuk turut berpartisipasi dalam mempengaruhi kebijakan Pemerintah daerah bagi kesejahteraan rakyat di pedesaan. Ini bisa dilakukan dengan melakukan pendidikan politik di pedesaan atau melalui pesantren-pesantren yang ada. Ini hanya bisa dilakukan ketika Komunitas Muda NU-Nihon melakukan misi proletar ke pedesaan atau pesantren ketika sedang di tanah air. Dari NU, oleh NU, untuk proletar, umat, dan bangsa.
( Ubedilah Badrun, pernah aktif di NU Japang)

Saturday, August 20, 2005

Juara I Volley Ball pada kompetisi 17-an KBRI Tokyo 2005

"Smash !!!" hahaha...ternyata sisa-sisa masa lalu sewaktu SMA menjadi team volley sekolah bertanding di Kabupaten masih ada. Hahaha...
Foto disebelah ini adalah saat menjadi smasher pada kompetisi volley ball dalam rangka HUT RI ke 60 KBRI Tokyo 2005. Dan Alhamdulillah enggak tanggung-tanggung menjadi juara I (satu!!). Hebat euih...lumayan seru juga sih finalnya. Saya membayangkan andai anaku Shabira dan istriku sayang ngeliat langsung pasti aneh and ketawa..kok masih bisa nyemash yah? hahaha...padahal tuh body beratnya terus bertambah..haha. Yups.
Nah..tiga teman yang sedang konsentrasi menatap kecepatan bola adalah Indra, Erick dan Yopi. Thanks friends..nice games and you are good teamwork.
Nahh yang lebih bermakna lagi adalah kesadaran berolahraga kini tumbuh kembali di benak saya. Artinya intensitasnya agak lebih baik. Ini yang sebetulnya saya syukuri. Sebab olahraga adalah bagian penting yang akan membentuk kesehatan fisik dan daya tahan tubuh menjadi lebih baik. Implikasinya? tugas-tugas pekerjaan maupun amanah lainya bisa saya kerjakan dengan sempurna. Thanks god, thanks my Allah.

Diplomasi Melalui Pendidikan


Ini peristiwa 1 Februari 2005 yang lalu, saat saya harus berpidato dengan bahasa Jepang menyambut kunjungan Sekolah Yoshida ke Sekolah RI Tokyo. Peran diplomasi melalui lembaga pendidikan saya rasakan sangat strategis. Inilah pertama kali mewakili kepala sekolah berpidato dengan bahasa Jepang, lumayan deg-degan juga sih..hehehe. Tapi akhirnya berjalan lancar dan mantaps!!.Ini beberapa penggalan isi pidato itu.
" Soshite konobao okarishite, mazuwa Sumatera-tou-oki jishin-tsunami saiga i ni kansai, sousouni omimaino odenwao itadaki, mata konkaiwa gi enkin made atsumete itadaki, gakko o daihyo itashimashite oreio moushiagemasu. Arigatou gozaimashita. Indonesiano fukko niwa mada taihen jikan ga kakaruto omoimasuga, minasamani atataka i-te wo sashinobete itadaita okagede kokoro-zuyoku kanjiraremasu "
Itulah sebagian pidato saya, sebab konteks kunjungan Sekolah Yoshida juga sekaligus memberikan sumbangan untuk korban bencana tsunami di Aceh. Salah satu kepedulian yang luar biasa dari masyarakat Jepang untukAceh. Terima kasih sekolah Yoshida. Arigatou gozaimasu.

Free Web Counter
Free Hit Counter