Sunday, August 20, 2006

Segala Puji Bagi Allah anak ketiga kami telah lahir

Rabu(9/8/2006) tepat pukul 10.05 pagi putri ketiga kami telah lahir di Rumah Sakit Haji Jakarta. Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) atas kelancaran proses kelahiran putri kami. Untuk putri kami yang ketiga ini kami beri nama HANNA AISHA ADIBAH, nama ini mengandung do'a agar putri kami kelak menjadi "bunga elok kehidupan yang berpengetahuan/berilmu". Amin. Kelahiran Aisha ini membuat saya (Ayahnya) kangen bangett pengen menyentuhnya, sebab kelahiran Aisha ini saat saya sudah kembali ke Jepang. Duuh...rindu ku menyentuh buah hati kami. "Makasih istriku sayang...dan maafkan A'a' tidak bisa menemani jihadmu saat melahirkan, semoga pahala dan kasih sayang Allah selalu tercurah untukmu".
"Oh ya, Shabira sekarang sudah menjadi kakak, kata Umi kakak Bhira hebat sebab kakak Bhira ikut sibuk menyiapkan banyak hal saat menjelang kelahiran Aisha, dan kata umi juga kakak bhira sayang bangett sama Aisha".

Menjelang Kelahiran Aisha

Dua minggu menjelang kelahiran putri ketiga kami (Aisha), Shabira dan uminya pengen berenang bangett, walhasil aspirasi dua srikandi ini menjadi kenyataan yang menyenangkan. Meskipun kami sempat deg degan ketika melihat Umi berenang begitu lincah, seperti tidak sedang hamil tua saja. "Umi hebatt !!" begitu kata Shabira. Kebersamaan sungguh begitu indah, dan kami nikmati keindahan itu di Ancol. "ya Allah betapa indah karuniamu menyatukan kami, segala puji bagi-Mu ya Allah".

Berkunjung ke The University of Tokyo



"Ayah , Shabira pengen sekolah di Tokyo" , tiba-tiba suara itu terucap dari bibir mungil Shabira. Lalu kami hanya menjawab "Amin" dengan do'a semoga suatu saat nanti Shabira bisa kuliah di Universitas terkemuka di Jepang. Hari itu kami (Ayah dan Uminya) mengajak Shabira uintuk mengelilingi The University of Tokyo, dari Departement of education, Institute of Social Science, dan departement lainya termasuk ke sejumlah gedung laboratorium, sempat makan obento di tepi danau, berfoto ria di depan kampus usai maghrib tiba.


Monday, December 05, 2005

Musim Gugur Di Negeri Sakura





Sunday, November 20, 2005

Shabira dalam berbagai gaya di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 (Jepang)









Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 (Gn Fuji & Danau Kawaguchi)






Indahnya kebersamaan di musim gugur 2-25 Nov 2005 (Tokyo Disneyland)




Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005 ( Tokyo Tower)




Indahnya kebersamaan di Musim Gugur 2-20 Nov 2005(Istana Kaisar Tokyo )











Monday, October 17, 2005

Shabira Begaya di kampung dan di kampus
















Shabira kemaren ke kampung Ayahnya di Indramayu. " Enggak bisa diem dan banyak gaya, terus sok ngatur temen-temen seusianya di kampung, bawa rombongan anak-anak ke rumah Ma' De' atau neneknya teruss disuruhnya cium tangan neneknya semua...hehehe". Dua foto yang berbaju pink adalah gaya Shabira di Kampung dan ekpresinya saat ngambil mangga, sementara dua foto yang lagi duduk adalah gayanya sewaktu di kampus. Empat foto ini menurut Ayahnya punya rating eksprersi yang sama-sama bikin gemess...hehehe. "Selamat berekspresi ya sayang yaaa anak solehah yang lucu...."

Thursday, September 22, 2005

Dibalik Kemenangan Koizumi

Dibalik Kemenangan Koizumi
Oleh : Ubedilah Badrun
Tulisan ini dimuat di www.hminews.com pada rubrik Opini

Pemilu Parlemen Jepang usai dilaksanakan pada 11 September 2005 lalu dengan kemenangan LDP(Liberal Democratic Party) atau Jiyuminshuto dengan memperoleh 296 kursi di parlemen. Dengan kemenangan itu dan didukung 44 kursi dari partai koalisi di parlemen Junichiro Koizumi dengan mudah terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Jepang setelah 340 dari 480 suara anggota Majelis Rendah Parlemen memilihnya pada sidang parlemen, Rabu (21/9). Seperti diketahui bahwa dua per tiga kursi Majelis Rendah ditempati oleh koalisi yang berkuasa pendukung Koizumi. Keputusan majelis rendah tersebut disusul keputusan senada dari Majelis Tinggi Parlemen. Sidang pemilihan Perdana Menteri itu dilaksanakan selang beberapa jam setelah kabinet secara massal mengundurkan diri. Pengunduran diri ini merupakan formalitas untuk memuluskan sidang parlemen serta penunjukan perdana menteri. Hal ini dilakukan mengingat koalisi sudah menguasai Majelis Rendah dan Tinggi. Sejumlah pengamat menduga, setelah terpilih kembali, Koizumi akan melantik kembali kabinet yang membubarkan diri paling lambat Rabu malam 21 September ini.
Apa yang dilakukan Koizumi setelah itu? Jawabanya sudah pasti bahwa Koizumi akan memusatkan perhatian untuk melakukan swastanisasi Kantor Pos, sesuai program saat kampanye Pemilu. Kantor Pos Jepang adalah lembaga keuangan raksasa dengan simpanan hingga tiga triliun dollar AS, belum termasuk aset asuransi jiwa yang dikelolanya. Ada apa dibalik program swastanisasi Kantor Pos Jepang ? Argumentasi sederhana yang ditangkap penulis melalui sejumlah media Jepang dan diskusi dengan komunitas Jepang di Tokyo ditemukan bahwa Kantor Pos Jepang beroperasi dengan biaya negara dan dikelola oleh pegawai yang berstatus pegawai negeri. Karena merupakan perusahaan negara maka biaya pengelolaan Kantor Pos yang menyebar di seluruh wilayah Jepang ini diperoleh dari pajak rakyat dengan jumlah yang amat besar. Sementara perolehan keuntungan dari Kantor Pos Jepang tidak seimbang dalam kaca mata bisnis dengan pengeluaran yang ditanggung pemerintah. Sementara sumber perolehan dari pajak rakyat diprediksikan dalam beberapa tahun kedepan mengalami penurunan yang amat drastis. Sebab jumlah pembayar pajak mengalami penurunan yang tajam.
Tahun 2005 ini jumlah pembayar pajak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena para wajib pajak tidak mampu membayar pajak dan tidak terkena wajib pajak karena usianya yang tidak produktif lagi. Jumlah penduduk yang tidak produktif di Jepang yang berusia di atas 65 tahun mencapai 20% dari seluruh jumlah penduduk Jepang. Ini artinya sumber pajak Jepang mengalami penurunan mencapai 20 %. Disaat yang sama mereka juga berhak memperoleh uang pensiun yang telah mereka bayar sejak usia 20 tahun. Di Jepang setiap warga negara yang sudah berusia 20 tahun setiap bulannya wajib membayar uang pensiun sebesar lebih dari ¥ 13.000 atau sekitar lebih dari satu juta rupiah. Bisa dibayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan pemerintah Jepang untuk para pensiunan, yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal produktif lainya.
Sementara dikalangan muda Jepang kini menghadapi permasalahan yang cukup serius sebab tidak sedikit anak muda Jepang yang berusia produktif tidak mau bekerja dan tidak mau sekolah. Kelompok anak muda ini menyebut dirinya NETO, suatu komunitas muda Jepang yang tidak mau bekerja dan tidak mau melanjutkan pendidikan. Dalam perspektif filsafat bisa jadi mereka masuk kategori kelompok hedonisme. Realitas anak muda usia produktif ini seharusnya bisa menjadi wajib pajak dan bisa menambah devisa negara dari pajak mereka. Ini artinya sumber penghasilan negara dari pajak juga mengalami penurunan.
Para perempuan Jepang yang bekerja, sangat takut mempunyai anak sebab jika melahirkan itu artinya harus siap kehilangan pekerjaan. Sebab sulit bagi perusahaan Jepang untuk menerima kembali perempuan Jepang menduduki posisi semula dari pekerjaanya seperti sebelum melahirkan. Banyak kasus pekerja perempuan setelah cuti hamil kemudian ingin kembali bekerja tetapi tidak memperoleh pekerjaan. Selain itu ketakutan punya anak juga disebabkan karena living Cost Jepang yang amat mahal. Mereka ketakutan dengan biaya hidup dan masa depan anaknya yang memerlukan biaya yang mahal, dari biaya hidup sampai biaya sekolah. Perihal ketakutan punya anak inilah yang menyebabkan angka kelahiran di Jepang merupakan terendah di dunia. Realitas inilah yang kemudian para ahli demografi di Jepang memperkirakan bahwa menjelang tahun 2007, penduduk Jepang diperkirakan mencapai 127 juta jiwa, dan kemudian menyusut menjadi 100 juta menjelang pertengahan abad. Ini berarti jumlah pekerja berkurang 30 juta orang, sedangkan jumlah orang lanjut usia hampir berlipat dua. Dengan demikian sumber pajak dari rakyatpun berkurang secara drastis.
Realitas yang mengkhawatirkan berkurangnya devisa negara dari pajak rakyat inilah yang merupakan salah satu pendorong Koizumi untuk melakukan swastanisasi Kantor Pos. Sebab biaya pengelolaan kantor Pos yang begitu besar itu bersumber dari pajak rakyat yang kini diprediksi akan mengalami penuruan secara drastis. Dengan demikian jika Kantor Pos masih dikelola negara dengan biaya yang besar itu maka tidak mustahil akan mengalami kebangkrutan total. Alasan ini diterima public Jepang secara antusias. Ini analisis yang coba dilihat secara sederhana dari logika perpajakan dan pensiunan Jepang. Tetapi jika dilihat dari latar idiologi Koizumi dan partainya (LDP) yang penganut Liberalisme dan Koizumi termasuk pemimpin Asia yang paling dekat dengan G.W.Bush, maka logika perpajakan itu tidak berlaku. Koizumi dengan idiologi liberalismenya ingin membebaskan swasta berinvestasi di Perusahaan Pos itu dan diketahui secara umum bahwa banyak perusahaan swasta atau investor Jepang yang memiliki jaringan bisnis dengan Amerika. Ini semacam konvensasi pembuktian idiologi liberal Koizumi untuk kesetiaannya pada Amerika. Sebab Jepang di bawah Koizumi sungguh-sungguh membutuhkan Amerika dalam menghadapi hubungan politiknya yang tegang dengan China dan Korea Utara saat ini.
Hal diatas sekedar analisis sederhana. Jika nalisis ini keliru , maka realitas kemenangan Koizumi adalah sekedar bukti dari kehausan masyarakat Jepang yang ingin perubahan, meski perubahah itu sangat artifisial. Jika benar, itulah rahasia dibalik kemenangan Koizumi. Atau anggap saja sekedar oleh-oleh dari Negeri Sakura.
Ubedilah Badrun, Alumni HMI MPO dan kini tinggal di Tokyo-Jepang.

Thursday, September 15, 2005

Wisuda S2 Psikologi UI







Ini saat wisuda S2 Psikologi UI my honey-my wife 30 Agustus 2005, dari pake jaket mahasiswa UI, foto usai wisuda di dekat danau UI, bersama Umi & Mayah yang kami cintai, bersama keluarga di depan Rektorat UI, bersama teman-teman wisuda dan sang buah hati kami Shabira yang pose di pinggir Danau UI, meski A'a' tidak bisa hadir karena tugas di Tokyo hati A'a' hadir dalam syukur yang dalam kepada Allah. Makasih yang, fotonya bikin A'a' seneng bangettt.
Akhirnya satu tahapan perjuangan telah yayang lalui dan tahapan perjuangan baru ada dihadapan mata tuk mengabdi tebarkan ilmu dan hikmah di Universitas. Tradisi intelektual dan riset akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup yayang. Gambaremasu !!..

Free Web Counter
Free Hit Counter